Jumat, 24 Juli 2015

Mengapa seorang DJ dianggap sebagai dosa karena bekerja sebagai DJ?


DJ adalah pekerjaan layaknya dokter, pengacara, marketing dan lain2. Seseorang untuk bisa menjadi DJ harus belajar dulu dan mengerti seluk beluk alat dan berbagai jenis musik. Dia harus memutar otak untuk bisa menghibur tamu dan bukan hanya sekedar pencet tombol saja. Ya mungkin untuk DJ2 asal jadi, mereka anggap DJ kerjanya hanya pencet tombol, main lagu jedak jeduk sambil goyang2 tangan. Karena anggapan dia, DJ itu maennya lagu yang jedak jeduk saja. Padahal musik beraneka ragam.



DJ dianggap hidup di dunia malam dan konotasi nya buruk. Padahal yang buruk itu bukan profesi DJ nya tapi orangnya. Sama seperti alkohol, orang mabok bukan karena alkohol tapi karena orang yang minum terlalu banyak. DJ dianggap pemakai obat, pemabuk, suka main cewe dll. Itu adalah orang secara pribadi. Bisa saja orang yang kerja di kantoran berbuat yang sama. Kebiasaan orang di Indonesia adalah memiliki pikiran yang gampang saja, tidak mau susah. Apa bedanya DJ dengan penyanyi? Mereka sama2 menghibur dengan musik. Ada artis sinetron yang tertangkap memakai obat2an, tapi profesi mereka tidak dicap buruk seperti DJ. Bahkan banyak orang tua yang mendaftarkan anak2nya mengikuti casting untuk bisa menjadi artis terkenal.

Setahu saya, tidak ada agama yang melarang orang untuk menghibur orang lain dengan musik. Malah DJ bisa membuat suasana senang melalui musik. Itu sama saja dengan berbuat baik bukan? 



Jika memang pekerjaan DJ itu adalah dosa, kenapa banyak orang bahkan artis2 yang ingin menjadi DJ? Dan kenapa DJ digunakan di tiap acara seperti perkawinan, perlombaan lari yang lagi tren saat ini ? Think about it.......





Profesi DJ dianggap seperti tidak layak untuk dijadikan pekerjaan karena tidak menghasilkan uang banyak seperti layaknya pengusaha, pengacara, dokter. DJ bila dilakukan dengan passion, maka uang bukanlah segalanya. Dengan passion, pekerjaan akan dilakukan dengan hati yang tulus dan seberat apapun pekerjaan akan terasa seperti bermain. Jika pekerjaan yang dilakukan dengan baik maka dengan sendirinya akan diperoleh income. Jadi kalo pekerjaan hanya diliat dari sudut uang nya saja, maka pekerjaan akan dilakukan dengan baik berdasarkan ukuran uang saja.

Jika pemikiran tentang DJ bisa berubah, saya yakin DJ akan memiliki image yang sama dengan pekerjaan2 lainnya. Dunia sudah maju dengan berbagai macam tehnologi, tetapi kenapa pikiran masih saja tidak mau maju. Bagaimana mau bersaing dengan dunia luar, jika mind set saja tidak mau berubah. 


Minggu, 12 Juli 2015

KENAPA TEMPAT DUGEM HARUS TETAP BUKA DI BULAN RAMADHAN?

Setiap tahun, para pekerja di tempat dugem alias club , pasti mengalami dilema jika bulan ramadhan muncul. Saya pun ikut terkena imbas karena saya memiliki pekerjaan di media, yang berkaitan dengan club dan para pekerja di dalamnya. Walaupun demikian, saya menerima nya dengan berat hati  dan teman2 saya yang berkecimpung langsung di club juga merasa demikian.

Berbagai profesi pekerjaan kumpul di club. Ada DJ, bartender, waitress, satpam, cleaning service, resepsionis dan operator alat musik. Selain profesi di dalam club, ada pula pekerjaan yang berkaitan dengan club seperti event organizer dan media untuk acara2 club. Walaupun pekerjaan tersebut tidak berdampak 100 persen  layaknya profesi di dalam club, tapi tetap terkena imbas. 

Dengan ditutupnya club, artinya mereka kehilangan pemasukan dan kehilangan tempat untuk mengekpresikan diri. Bartender dan DJ butuh panggung untuk mencurahkan semua skill yang dia punya. Seperti layaknya Penyanyi yang butuh panggung untuk menunjukkan kemampuan suara atau panggung stand up comedy bagi komedian yang ingin mencurahkan ide2 banyolan mereka. Kalo mereka hanya di rumah saja berekspresi, bagaimana mereka mendapat kritik atau saran dari hasil ekspresi mereka tersebut? Itu sama saja seperti istilah penyanyi kamar mandi.





Bagi DJ yang memilih bekerja sebagai DJ dan melakukannya dengan passion, mereka akan merasa kehilangan baik dari segi pemasukan dan tempat untuk menyalurkan diri. Ide2 kreatifitas di otak mereka tidak bisa mereka salurkan dengan baik, karena bagi DJ, mereka bukan hanya memainkan lagu tapi berusaha menghibur tamu dengan ide2 lagu2 mereka. Mungkin kalo untuk DJ Instant, hal tersebut tidak masalah...toh mereka hanya iseng terjun di dunia DJ.  Untuk masalah DJ Instant akan dibahas lebih lanjut nanti ya......



Ditutup nya club di bulan ramadhan katanya untuk menghormati yang berpuasa, karena club itu tempat penuh dosa menurut agama, katanya loh. Keputusan untuk berpuasa seharusnya dibarengi dengan komitmen dan tanggung jawab untuk melakukannya. Tapi kenyataannya, orang dengan alasan puasa mengharuskan club untuk tutup agar mereka bisa puasa dengan baik. Jika orang tersebut tegas akan keputusan untuk puasa, dia pasti bisa menahan diri untuk tidak ke club. Club sudah berkorban untuk tutup selama ramadhan dan pekerja2 club berkorban untuk tidak mendapat pemasukan demi yang puasa. Nah..apakah yang puasa mau berkorban untuk memberikan mereka pengganti pemasukan yang hilang tersebut?





Negara ini bukan hanya dihuni oleh 1 agama saja, tapi macam2 agama. Terus yang tidak puasa harus ikut menahan tidak ke club selama bulan puasa seperti orang2 yang berpuasa gitu? Itu kan sama saja memaksakan kehendak bukan menghormati. Katanya negara Pancasila yang saling menghargai perbedaan, tapi kog selama bertahun2 club selalu harus tutup selama ramadhan?

Puasa sendiri itu menurut yang saya tahu adalah menahan nafsu untuk tidak melakukan sesuatu yang bisa menimbulkan dosa. Apakah dengan puasa sebulan, dosa bisa hilang begitu saja? Yang membuat dosa itu kan karena pikiran untuk berbuat dosa. Apa yang puasa yakin pikiran mereka tidak berpikir untuk berbuat dosa?