Senin, 17 Agustus 2015

DENGAN UANG,FISIK, DAN POPULARITAS SEMUA BISA JADI DJ (JADI-JADIAN)

  DJ era dulu dan sekarang sangat berbeda jauh, baik dari skill, attitude dan wawasannya. Jika dulu DJ dituntut untuk bisa mengerti alat dan hal2 yang berkaitan dengan pekerjaan DJ, sekarang banyak yang kurang paham tentang itu. Jika dulu DJ bisa akrab dan saling membantu sama lain, sekarang malah yang ada saling sikut2an bahkan “menindas” satu sama lain. Jika dulu DJ dituntut untuk mengerti banyak jenis musik, sekarang malah belajar musik yang menjual saja.




  “Sejarah memang penting untuk dipelajari, tetapi bukan untuk di sawang-sawang,dikenang-kenang, bahkan diratapi” demikian cuplikan dari artikel yang pernah saya baca. Para DJ sekarang tidak diajarkan atau tidak mau belajar tentang sejarah tentang segala hal di dunia DJ, karena bagi mereka itu tidak penting. Keacuhan itu membuat mereka jadi cepat merasa jago sebagai seorang DJ, hanya karena mereka bisa menyambung lagu2 saja. Mereka lebih suka memakai sistem instant tanpa memperdulikan proses. 






Ya DJ2 itu adalah dj2 yang dinamakan DJ Jadi2an.



  Mereka seperti layaknya peserta pilkada sekarang yang cuma mengandalkan popularitas dan kekayaan untuk bisa tampil sebagai seorang DJ. Mereka tidak punya rasa malu dan etika. Ya semua orang sah2 saja untuk jadi DJ, itu hak2 mereka. Tapi apa mereka pernah merasa dalam hati, apa mereka pantas disebut seorang DJ...ya kalo mereka masih punya hati nurani.




   DJ jadi2an ini juga merupakan produk dari bobroknya fungsi sekolah dj dan matinya kreativitas dari club. Mengapa demikian?

   Sekolah DJ fungsinya untuk mendidik calon DJ untuk menjadi DJ yang benar ( mengerti semua hal yang berkaitan dengan DJ dan mengerti berbagai jenis musik ) dan baik (menghormati satu sama lain dan tidak merasa paling pintar). Kalo hanya untuk menghasilkan DJ saja ya jangan bilang sekolah tapi kursus. Sekolah dj untuk mempelajari segala seluk beluk dari dj sedangkan kursus dj untuk belajar tentang dj yaitu nyambung lagu. RUMUS dan CrossFader adalah contoh sekolah DJ yang benar tapi sayang sudah menjadi sejarah.

















  Sekolah dj banyak yang cuma memikirikan bagaimana mendapat pemasukan yang banyak bukan bagaimana menghasilkan DJ2 yang berkwalitas. Buktinya sekarang banyak sekolah dj yang banyak rekrut calon dj wanita karena wanita gampang dijual. Dan hasilnya dj2 wanita yang boleh dibilang bisa ngedj tapi kwalitasnya diragukan. Pengalaman saya sama dj wanita adalah kebanyakan dari mereka cuma bisa maen lagu yang mereka sukai, diluar itu mereka biasanya menolak untuk memainkannya.





   Contoh yang paling gampang adalah EDM. Bagi kebanyakan dj jadi2an, itu adalah genre. Padahal semua musik di club itu adalah EDM ( Electronic Dance Music ). Dan mereka dengan bangga nya bilang bisa maen EDM tanpa berusaha mencari tau ttg EDM. Dan mereka juga dengan yakin menulis di profile mereka, mereka bisa maen all genre...tapi kenyataannya tidak demikian.  Hanya sedikit dj2 yang mengerti genre menurut saya. Bahkan dj yang sudah bertahun2 di dunia dj, ada yang tidak mengerti ttg EDM.

   DJ2 wanita tidak merasa kalo image mereka dianggap sebagai DJ yang bisa dijual bahkan bisa dipakai dan ini semua karena kesalahan mereka sendiri. Ya para dj artis wanita ya mau ga mau juga kena dampak image tersebut secara tidak langsung. Termasuk DJ 5 menit loh......


   Club dalam hal ini juga ikut menyumbang munculnya DJ jadi2an ini..Kenapa?

   Dulu club kreatif dalam membuat suatu event karena mereka mempunyai resident DJ yang bagus bahkan club2 itu mempunyai ciri khas sendiri. Tapi sekarang club2 tersebut malas untuk berpikir kreatif, dan mencari gampangnya saja dengan memakai dj artis, dj wanita sexy bahkan toples. Image sudah tidak mereka pikirkan lagi, yang penting adalah income. Betul club harus punya income untuk bisa terus hidup dan kalo pake dj tersebut pasti rame,katanya ...nah apa gunanya PR,Marketing dan Manager Club? Manager club saja ada yang sok tau tentang lagu tapi keras kepala jika dikasih tahu.



   Dulu saya ingat, saya pernah diolok2 oleh manager club karena saya maen kacau (karena grogi hehehehe). Nah saya liat dj artis tidak pernah mengalami hal itu walaupun mereka maennya kacau. Dan pernah teman saya curhat kalo dia menyesal bayar dj artis wanita, maennya biasa aja bahkan jelek tapi minta bayarannya selangit. Jadi kesannya club sangat permisif sekali untuk DJ jadi2an tersebut dan bahkan terhadap peraturan yang mereka buat sendiri. Ada uang,  peraturan bisa dilanggar.




  Saya kagum dengan club2 dulu yang tidak terkontaminasi dengan dj2 jadi2 an seperti ini....Stadium, Embassy, Mana House/Public, Wonder Bar, Centro, Vertigo....namun sayang semua sudah menjadi sejarah.