DJ era dulu dan sekarang sangat
berbeda jauh, baik dari skill, attitude dan wawasannya. Jika dulu DJ dituntut
untuk bisa mengerti alat dan hal2 yang berkaitan dengan pekerjaan DJ, sekarang
banyak yang kurang paham tentang itu. Jika dulu DJ bisa akrab dan saling
membantu sama lain, sekarang malah yang ada saling sikut2an bahkan “menindas”
satu sama lain. Jika dulu DJ dituntut untuk mengerti banyak jenis musik,
sekarang malah belajar musik yang menjual saja.
“Sejarah memang penting untuk
dipelajari, tetapi bukan untuk di sawang-sawang,dikenang-kenang, bahkan
diratapi” demikian cuplikan dari artikel yang pernah saya baca. Para DJ
sekarang tidak diajarkan atau tidak mau belajar tentang sejarah tentang segala
hal di dunia DJ, karena bagi mereka itu tidak penting. Keacuhan itu membuat
mereka jadi cepat merasa jago sebagai seorang DJ, hanya karena mereka bisa
menyambung lagu2 saja. Mereka lebih suka memakai sistem instant tanpa
memperdulikan proses.
Ya DJ2 itu adalah dj2 yang
dinamakan DJ Jadi2an.
Mereka seperti layaknya peserta
pilkada sekarang yang cuma mengandalkan popularitas dan kekayaan untuk bisa
tampil sebagai seorang DJ. Mereka tidak punya rasa malu dan etika. Ya semua
orang sah2 saja untuk jadi DJ, itu hak2 mereka. Tapi apa mereka pernah merasa
dalam hati, apa mereka pantas disebut seorang DJ...ya kalo mereka masih punya
hati nurani.
DJ jadi2an ini juga merupakan
produk dari bobroknya fungsi sekolah dj dan matinya kreativitas dari club.
Mengapa demikian?
Sekolah DJ fungsinya untuk
mendidik calon DJ untuk menjadi DJ yang benar ( mengerti semua hal yang
berkaitan dengan DJ dan mengerti berbagai jenis musik ) dan baik (menghormati
satu sama lain dan tidak merasa paling pintar). Kalo hanya untuk menghasilkan
DJ saja ya jangan bilang sekolah tapi kursus. Sekolah dj untuk mempelajari
segala seluk beluk dari dj sedangkan kursus dj untuk belajar tentang dj yaitu
nyambung lagu. RUMUS dan CrossFader adalah contoh sekolah DJ yang benar tapi
sayang sudah menjadi sejarah.
Sekolah dj banyak yang cuma
memikirikan bagaimana mendapat pemasukan yang banyak bukan bagaimana
menghasilkan DJ2 yang berkwalitas. Buktinya sekarang banyak sekolah dj yang
banyak rekrut calon dj wanita karena wanita gampang dijual. Dan hasilnya dj2 wanita
yang boleh dibilang bisa ngedj tapi kwalitasnya diragukan. Pengalaman saya sama
dj wanita adalah kebanyakan dari mereka cuma bisa maen lagu yang mereka sukai,
diluar itu mereka biasanya menolak untuk memainkannya.

Contoh yang paling gampang adalah
EDM. Bagi kebanyakan dj jadi2an, itu adalah genre. Padahal semua musik di club
itu adalah EDM ( Electronic Dance Music ). Dan mereka dengan bangga nya bilang
bisa maen EDM tanpa berusaha mencari tau ttg EDM. Dan mereka juga dengan yakin
menulis di profile mereka, mereka bisa maen all genre...tapi kenyataannya tidak
demikian. Hanya sedikit dj2 yang
mengerti genre menurut saya. Bahkan dj yang sudah bertahun2 di dunia dj, ada
yang tidak mengerti ttg EDM.
DJ2 wanita tidak merasa kalo
image mereka dianggap sebagai DJ yang bisa dijual bahkan bisa dipakai dan ini
semua karena kesalahan mereka sendiri. Ya para dj artis wanita ya mau ga mau
juga kena dampak image tersebut secara tidak langsung. Termasuk DJ 5 menit
loh......
Club dalam hal ini juga ikut
menyumbang munculnya DJ jadi2an ini..Kenapa?
Dulu club kreatif dalam membuat
suatu event karena mereka mempunyai resident DJ yang bagus bahkan club2 itu
mempunyai ciri khas sendiri. Tapi sekarang club2 tersebut malas untuk berpikir
kreatif, dan mencari gampangnya saja dengan memakai dj artis, dj wanita sexy
bahkan toples. Image sudah tidak mereka pikirkan lagi, yang penting adalah
income. Betul club harus punya income untuk bisa terus hidup dan kalo pake dj tersebut
pasti rame,katanya ...nah apa gunanya PR,Marketing dan Manager Club? Manager
club saja ada yang sok tau tentang lagu tapi keras kepala jika dikasih tahu.
Dulu saya ingat, saya pernah
diolok2 oleh manager club karena saya maen kacau (karena grogi hehehehe). Nah
saya liat dj artis tidak pernah mengalami hal itu walaupun mereka maennya
kacau. Dan pernah teman saya curhat kalo dia menyesal bayar dj artis wanita,
maennya biasa aja bahkan jelek tapi minta bayarannya selangit. Jadi kesannya
club sangat permisif sekali untuk DJ jadi2an tersebut dan bahkan terhadap
peraturan yang mereka buat sendiri. Ada uang,
peraturan bisa dilanggar.
Saya kagum dengan club2 dulu yang
tidak terkontaminasi dengan dj2 jadi2 an seperti ini....Stadium, Embassy, Mana
House/Public, Wonder Bar, Centro, Vertigo....namun sayang semua sudah menjadi
sejarah.































Website paling ternama dan paling terpercaya di Asia
BalasHapusSistem pelayanan 24 Jam Non-Stop bersama dengan CS Berpengalaman respon tercepat
Memiliki 9 Jenis game yang sangat digemari oleh seluruh peminat poker / domino
Link Alternatif :
arena-domino.club
arena-domino.vip
100% Memuaskan ^-^